Sabtu, 22 Desember 2007

PERAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI DALAM MENDUKUNG KOMUNIKASI BISNIS DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN

Bagaimana teknologi bisa mendukung perusahaan untuk lebih tanggap terhadap kebutuhan dan keinginan pelanggan (customer driven) ? Bagaimana akhirnya ICT menjadi medium efektif dan luas jangkauan sebagai sarana pemasaran produk dan jasa ? Mengapa sarana E-Business semacam situs internet, mailing list, dan blog akhirnya menjadi bagian terpenting dari marketing online ? Berikut ini uraiannya.

· belanja melalui iklan online tumbuh lebih dari 75% per tahun dalam tiga tahun terakhir, dengan pendapatan perusahaan diperkirakan sebesar 812 miliar Dollar AS.

· Meskipun internet saat ini hanya berkontribusi 2,3% terhadap pasar iklan total di China, para pengamat memperkirakan komposisi tersebut akan berubah dalam 10 tahun terakhir dimana pendapatan melalui iklan media online akan menyusul media konvensional.

· Motorola menyelenggarakan kontes rekaman video online bagi remaja China. Lebih dari 14 juta orang mengeklik dalam waktu kurang tiga bulan, dan terdapat 1,3 juta yang mau memberikan penilaian dari para peserta kontes. Apa hasilnya? Produk ponsel Motorola penjualannya meningkat pesat.

· Pendapatan iklan di portal-portal Internet terkemuka di Cina tumbuh 25% pada tahun 2005. Misalnya, di Sohu.com Inc. - portal terbesar ke-3 di Cina, kini sekitar dua pertiga pendapatannya disumbang iklan. Porsi itu naik dua kali lipat dibanding tiga tahun lalu. Untuk memikat iklan lebih banyak, Sohu.com telah menandatangani kesepakatan pemasaran yang terkait dengan ajang Piala Dunia Jerman dan Olimpiade Beijing pada 2008. Pada 27 April lalu, Sohu mengumumkan, sepanjang kuartal pertama pendapatan iklannya tumbuh 35%.

· Anak perusahaan eBay, Internet Auction Co., menjadi pemain utama di Korsel dengan menyumbangkan 75% pendapatan di seluruh Asia. Perkembangan iklan online lain di Korsel adalah munculnya Gmarket yang notabene pesaing Internet Auction Co. Dengan penerapan penjualan model lelang melalui internet, pemasok t-shirt, televisi, LCD ini terbukti sukses menyedot perhatian.

· Majalah BusinessWeek Juli 2006 lalu memperkirakan blog bisnis mencapai 25 juta yang meliputi korporat, bisnis menengah, dan perseorangan.

II. LATAR BELAKANG

A. ICT dalam Mendukung Komunikasi Bisnis

Bisnis merupakan kegiatan yang dilakukan manusia sejak awal peradabannya. Sejalan dengan perkembangan jaman, cara dan sarana yang digunakan untuk berbisnis senantiasa berubah. Dengan perkembangan ICT, kegiatan bisnis mengalami transformasi dari bentuk konvensional (cash money transaction) ke dalam transaksi elektronik. Dari sini muncul istilah E-Business yang memiliki makna luas untuk menunjuk kepada penggunaan teknologi dalam menjalankan fungsi bisnis yang memberikan hasil atau dampak besar kepada kegiatan bisnis keseluruhan
E-Business mencakup semua area perdagangan yang menggunakan transaksi elektronik. E-Business terjadi ketika perusahaan atau individu berkomunikasi dengan para client atau nasabah secara E-Mail, memasarkan dan menjual produk melalui situs internet atau blog, saling bertukar informasi melalui mailing list atau newsgroup, dan sebagainya

Pada akhirnya, kegiatan marketing adalah bagaimana mengarahkan konsumen agar memutuskan untuk membeli barang. Dari sini muncul istilah E-Commerce yang memiliki pengertian lebih sempit dibandingkan E-Business. E-Commerce mengacu kepada penggunaan situs internet untuk melakukukan transaksi bisnis, seperti melakukan penawaran, pembelian produk, dan pembayaran.

Penggunaan internet sebagai media pemasaran dan saluran penjualan membawa keuntungan. Internet merupakan media promosi perusahaan dan produk yang paling mudah. Disamping itu, membuat situs di internet lebih murah biayanya dibandingkan dengan membuka outlet retail konvensional.

Perkembangan lebih jauh dari E-Commerce adalah standarisasi format transaksi elektonik ke dalam EDI (Electronic Data Interchange) yang digunakan untuk mengefisienkan pertukaran data transaksi regular yang berulang dalam jumlah besar antara organisasi komersial.

Transaksi Elektronik pada dasarnya memiliki fitur-fitur yang sangat khusus, yang sangat berbeda apabila dibandingkan dengan transaksi konvensional. Fitur pelayanan tanpa batas (Borderless Services) memungkinkan para pelaku bisnis dapat memasarkan produknya cukup dengan membuat situs web kapan saja dan tentu pelanggan dari seluruh dunia dapat mengakses dan melakukan transaksi secara online. Transaksi akan diakui sepanjang pembayarannya telah diotorisasi oleh penyedia layanan sistem pembayaran yang ditentukan (pada umumnya dengan kartu kredit), tetapi para pelaku bisnis tidaj perlu harus bertatap muka (anonim)

Implementasi E-Business mengubah suasana kompetisi menjadi semakin dinamis dan global. Seperti pada perdagangan konvensional, pertemuan antara berbagai pihak dengan beragam kepentingan akan membentuk sebuah pasar tersendiri tempat bertemunya permintaan (demand) dan penawaran (supply). Pasar ini disebut dengan Electronic Business Community dimana para anggotanya memanfaatkan ICT sebagai tempat berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dalam menjalankan kegiatan bisnisnya sehari-hari. Intinya ICT telah menciptakan industri baru dalam komunikasi bisnis. Hal ini dimungkinkan karena ICT dapat mempercepat arus informasi yang merupakan kunci sukes dalam meningkatkan performa bisnis
Pengaruh ICT dalam dunia bisnis tampak nyata dalam E-Business, transaksi bisnis dicatat, diolah, dan dilihat dan pada saat yang hampir bersamaan (real-time), contoh seperti dilakukan para nasabah bank pada saat melakukan transaksi pada ATM (Automated Teller Machine). Dalam industri perbankan, ICT bukan lagi hanya sekedar pendukung, melainkan tumbuh sebagai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
B. Umpan Balik Dalam Persaingan E-Business
Telah dijelaskan latar belakang bagaimana akhirnya keunggulan yang ditawarkan ICT menciptakan model komunikasi bisnis yang sama sekali baru. Kehadiran berbagai penemuan baru di bidang ICT telah membawa dampak perubahan perilaku para pelaku bisnis.
Salah satu contoh adalah munculnya blog di internet yang telah melahirkan media online yang interaktif, komunikatif, efektif, murah, dan gratis bagi siapa saja. Seorang pengamat web, Steven Streight (2004) mengatakan bahwa blog membuat orang yang tidak paham bagaimana caranya membuat situs internet mempunyai akses untuk merancang web content guna mengkomunikasikan ide dan produk mereka.
Dengan demikian, pelaku bisnis transaksi elektronik makin marak dan selanjutnya muncul pertanyaan : bagaimana cara memenangkan persaingan di medan bisnis transaksi elektronik ini ?
Pertanyaan tersebut mendapat respons serius dari seorang konsultan internet marketing, Jeremy Wright. Dalam bukunya Blog Marketing (2005) Wright berpikir mendasar bahwa memiliki sebuah situs internet tanpa mengetahui tujuan memang menarik untuk dilihat tetapi tidak akan memberikan kontribusi apapun. Situs Internet bukan sekadar media penyiaran, melainkan sarana komunikasi antar pelaku bisnis.
Dalam hal ini, aspek perilaku konsumen dan marketing mix bisnis konvensional tetap berlaku dalam E-Business. Situs Internet memberi kesempatan kepada perusahaan agar semaksimal mungkin menciptakan Product Knowledge yang baik kepada pembaca. Blogger yang baik tidak sekadar berharap menerima komentar yang masuk, melaikan harus mampu merespons umpan balik, baik yang positif maupun negatif kepada para pembacanya. Umpan balik menurut Wright, adalah peluang terbaik yang harus dimanfaatkan untuk memenangi persaingan.
C. Pola Komunikasi Dalam E-Business
Dalam komunikasi bisnis, perangkat ICT seperti situs internet, mailing list, news group, atau blog tidak boleh mengedepankan selera personal dan harus dikelola secara resmi. Perusahaan harus membentuk tim khusus untuk melakukan hal ini. Sekalipun resmi tujuannya murni untuk promosi, namun isinya harus beda dari penayangan iklan konvensional semaca televisi, radio, brosur, dan model media cetak.
Kalau media tradisional tadi kita sebut sebagai media informasi yang pasif, maka situs internet bersifat interaktif. Berbagai pembicaraan disampaikan lintas batas dan zona waktu hampir pada saat yang bersamaan. Pesan-pesan muncul campur aduk sehingga kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang dusta. Dalam situasi turbulence seperti itu, peluang untuk berbagai kesempatan menjalin relasi bisnis terbuka lebar.
Perangkat E-Business dituntut untuk menyajikan Corporate Identity, perkembangan yang terjadi dalam setiap fungsi bisnis perusahaan, perkembangan dunia industri, proses produksi, kerja tim karyawan, style, setiap event yang terjadi termasuk kegiatan sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility).
Keaktifan berinteraksi adalah kata kunci dalam E-Business. Membalas surat dalam waktu 5 jam adalah baik, 1 jam lebih baik. Ibarat the signpost (papan tanda), pengelola situs harus mampu memberikan informasi yang bermanfaat kepada para pembaca, dan menunjukkan jalan ke informasi lain yang lebih bermanfaat.
Dunia cyber tak kenal batas normal dan moralitas. Karena itulah, penting kiranya seorang marketing bersikap sabar dan tidak boleh terjebak pada kemarahan dengan setiap omongan yang tidak dikehendaki. Asumsinya, dengan penjelasan yang baik, secara otomatis yang negatif akan terjawab dengan sendirinya. Harus disadari pula pengalaman E-Business yang selama ini sukses masih berada di perusahaan besar (korporat). Bagi perusahaan kecil tentu urusannya lain. Apalagi jika perusahaan tersebut bergerak dalam bidang jasa dalami skala menengah ke bawah.
Alhasil, marketing online menjanjikan sebuah peluang, namun untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan membutuhkan pemikiran dan eksperimen tersendiri yang menuntut keringat dan pemikiran jenius.
III. PERMASALAHAN

Di atas telah kita sajikan perkembangan marketing online di China dan Korsel, perkembangan ICT dalam mendukung E-Business hingga mampu membentuk model komunikasi bisnis baru. Pertanyaannya, apakah para pelaku E-Business, baik yang memakai website, maillinglist, maupun blog bisa menerapkan secara praktis di Indonesia?
Berbicara tentang Indonesia, situasi yang kontras terlihat di sini :
· Pengguna internet baru 1,7 % dari total jumlah penduduk. Dari jumlah tersebut tidak sampai 0,5 % yang yakin bahwa belanja online lewat internet itu aman, selebihnya malah tidak paham bagaimana cara belanja lewat internet.

· Situs-situs pemda banyak yang mati dan tidak diupdate sampai sekian lama.

· Banyak website perusahaan milik orang Indonesia yang memasang alamat surat masuk. Bahkan di dalamnya memuat pesan seperti, “Silakan kirim surat Anda ke alamat ini. Surat yang masuk akan segera kami jawab.” Dan tunggulah sampai usia Anda habis, dijamin tetap saja tidak akan ada respons !

IV. PEMBAHASAN

A. Jumlah Pengguna Internet

Maraknya E-Business di China, Korea dan Amerika Serikat (AS) tidak lepas dari jumlah pengguna internet. Hasil survei Computer Industry Almanac Inc. menunjukkan urutan pengguna internet sebagai berikut :

- AS : pengguna 197,8 juta, pangsa pasar 18,3%, pada urutan pertama
- China : pengguna 119,5 juta, pangsa pasar 11,1%, pada urutan kedua
- India : pengguna 50,6 juta, pangsa pasar 4,8 %, pada urutan ketiga
- Korsel : pengguna 33,9 juta, pangsa pasar 3,1%, pada urutan tujuh
- Urutan 3, 4, 5, 6 ditempati Jepang, Jerman, Inggris, dan India

Bagaimana dengan Indonesia? dimana pengguna internet baru 1,7 % dari jumlah penduduk ? itupun sudah dikurangi dengan orang yang tidak yakin bahwa bertransaksi online itu aman. Jadi masuk akal pertarungan E-Business di Indonesia tidak seglamour di China, di AS apalagi.

B. Pemanfaatan Internet Sebagai Alat Komunikasi Bisnis
Dari sisi pemanfaatan waktu, pengguna internet dibagi menjadi tiga kategori, yaitu

aktif : 4-8 jam atau lebih dalam sehari dalam seminggu
setengah aktif : minimal 1 jam dalam sehari selama satu minggu
pasif : hanya sesekali membuka situs atau sekadar membuka E-Mail

Kelompok pengguna aktif ini sangat penting kita bicarakan karena mereka menggunakan internet bukan sekadar sebagai alat bantu (sekunder), melainkan sebagai sarana primer dalam keseharian. Mulai dari mencari informasi dan data, berkomunikasi, hingga mencari nafkah, termasuk mereka-mereka yang jam kerjanya habis untuk berselancar di jagat maya.

Kepada para pengguna internet aktif di Indonesia ini, kita patut ajukan satu pertanyaan fundamental : sudahkan mereka mendapatkan keuntungan finansial dari kegiatan bisnis melalui internet ? Kalau anda termasuk pengguna aktif, sudah mampukah anda menggantungkan kehidupan finansial melalui internet?

Saluran Cyber bagi kebanyakan pengguna di Indonesia, sebagaimana juga terjadi di negara dunia ketiga lainnya, masih sebatas untuk sarana hiburan, atau komunikasi yang tidak produktif. Kita belum bicara mengenai internet sebagai alat komunikasi bisnis, apalagi untuk bertukar ilmu pengetahuan. Kelemahan kita adalah memberlakukan internet sebagai media pasif. Sementara masyarakat di negeri maju, terutama pelaku bisnis, gencar berinteraksi mempublikasikan tujuan bisnis mereka. Bagi mereka, E-Business adalah mengupas manfaat besar yang mereka petik dengan dukungan ICT.

D. Problem Pola Pikir, Komunikasi, dan Bahasa

Di Indonesia, internet belum menjadi media interaktif bukan hanya karena soal minimnya jumlah pengguna dan belum optimalnya pemanfaatan internet sebagai alat komunikasi bisnis, akan tetapi problem pola pikir, komunikasi, dan bahasa juga memegang peranan besar :

- mentalitas kebanyakan orang dunia ketiga yang gagap berkomunikasi melalui jaringan teknologi mutakhir. Ini bisa kita buktikan belum banyaknya orang yang berhasil bisnisnya di jagat maya.

- Secara umum masyarakat Indonesia masih mempercayai bahwa uang hanya bisa kita dapatkan dari pekerjaan konvensional di dunia nyata. Mereka belum percaya kepada suatu bentuk bisnis dimana barang yang ditawarkan tidak tampak, atau para pelaku bisnis tidak bertatap muka secara langsung.

- Minimnya kemampuan bahasa asing, terutama menulis bahasa Inggris, kita akan kesulitan menawarkan produk atau jasa yang kita miliki. Dari sini, dunia bahasa yang selama ini tidak pernah kita pikirkan sebagai syarat berekonomi tiba-tiba menjadi syarat mutlak, bahkan lebih penting ketimbang ijazsah S-1 atau S-2.

- Sejalan dengan evolusi peradaban suatu bangsa di mana semakin maju sebuah bangsa, semakin penting kebutuhan bahasa yang bermutu. Dan, bahasa tulisan adalah puncak dari peradaban manusia dibanding bahasa lisan. Nyatanya komunikasi tekstual berbasis online belum membumi bagi masyarakat bertradisikan lisan seperti Indonesia dan tentu berpengaruh bagi pangsa pasar E-Business. Kita tahu, lawan bicara dalam dunia maya adalah orang-orang yang hidup dalam kultur kehidupan beradab seperti Jerman, Inggris, Jepang, Amerika Serikat, Swiss, Italia yang pastinya punya cita rasa komunikasi yang lebih baik dari penduduk negara dunia ketiga. Bahkan di Indonesia sebuah E-Mail belum dianggap sebagai surat resmi.

E. Situs Internet Hanya Pajangan

Bahkan website yang jelas-jelas mencantumkan ikon layanan publik milik pemerintah pusat maupun milik pemerintah daerah tak pernah menjadi jembatan penghubung antara pejabat dengan rakyat. Kebanyakan orang kita menganggap website bukan media komunikasi, melainkan sekadar pajangan dengan desain jelek yang tidak enak dibaca.

V. KESIMPULAN

· Peran ICT dan semua perangkat pendukungnya dalam dunia komunikasi bisnis di Indonesia masih dihadapkan banyak kendala. Dimana salah satunya adalah komunikasi online berbasis teks masih belum membumi dalam kegiatan sehari-hari orang Indonesia.

· Di Indonesia, internet belum terlalu popular digunakan menjadi media interaktif bisnis, bukan hanya karena minimnya penetrasi infrastruktur internet ke lapisan masyarakat, tetapi juga masih banyak pelaku usaha yang belum memahami bagaimana mengkomunikasikan bisnis melalui jaringan teknologi mutakhir ini. Hampir semua calon konsumen di Indonesia masih memiliki keragu-raguaan (skeptis) untuk melakukan transaksi di jaringan toko maya ini

VI. SARAN

Sekaligus dihadapkan pada berbagai kendala, sesuungguhnya potensi pasar E-Business masih besar di Indonesia. Jumlah penduduk yang besar menjadi salah satu potensi pasar utama. Adapun kendala di atas pada hakikatnya tidak dimaksudkan untuk mengabaikan potensi pasar marketing-online, melainkan sebagai tantangan para pelaku E-Business untuk menggali potensi pasar secara mandiri dan kreatif sehingga mampu mengubah kendala yang ada menjadi peluang bisnis.

REFERENSI

· Mingay, Simon. 2005. “Effective Communication between IT Leaders and Stakeholders must
be Structured and Contextual”.
· Neuman. Cheryl McKenna. 2002. “Establishing Effective Communication with Large Science
Classes”.
· Perry, Roberta. 2003. “Barriers to Effective Communication”.
· Soller, Amy; Alan Lesgold, Frank Lintin dan Brad Goodman. 1999. “What Makes Peer
Interaction Effective? Modelling Effective Communication in an Intelligent CSCL”.
· Ruben, Brend D and Lea P. Stewart, Communication and Human Behavior, 4th Edition, Allyn
and Bacon

Tidak ada komentar: